Tak Berarti Sepele

“Jangan suka menyepelekan sesuatu yang sepele, agar tidak menjadi sepele” (Gus Mus).

Sesuatu yang sepele benar-benar akan menjadi sepele kalau kita menyepelekannya. Tapi, kalau kita tidak mnejadikannya sepele, maka iapun tidak akan menjadi sepele. Tak ada persolan besar apapun melainkan ia akan tampak kecil kalau kita menyepelekannya. Tak ada suatu masalah sekecil apapun, kalau kita mendramatisirnya melainkan ia akan membesar.

Nah, dalam konteks kesepelean ini, sering kali kita  menyepelekan seseorang atau banyak orang. Sering kali kita menyepelekan peran seseorang. Ketika kita adalah seorang penguasa, kita sepelekan rakyat jelata. Padahal tak akan pernah ada penguasa tanpa adanya orang yang dipimpin. Ketika kita bisa memberi sumbangan jutaan, kita sepelekan orang yang menyumbang hanya ribuan. Padahal uang satu juta, tidaklah genap satu juta tanpa dilengkapi uang seratus rupiah. Banyak  orang kaya pongah  dengan membusungkan dada di hadapan orang miskin. Padahal ia disebut kaya karena ada oraang miskin. Dan begitu seterusnya.

Ada uangkapan bahasa Arab yang menjadi hafalan wajib dan pegangan sikap bagi santri di pesanntren: “Laa tahtaqir man dunak, fa inaa li kulli syai`in maziyah =  Janganlah kau sepelakan (hina) orang lain, karena segala sesuatu (setiap oorang) mempunyai kelebihan!.” Setiap orang mempunyai kelebihan yang memang tidak harus sama dengan orang lain. Setiap orang pasti akan mempunyai kekurangan, yang masing-masing orang tentu beragam kekurangannya. Dan yang terpenting adalah jangan sampai kelebihan kita, justru kita sendiri yang menguranginya (baca banyak tidur). Sebaliknya, marilah masing-masing kita belajar untuk menjadikan berbagai kekurangan kita menjadi kelebihan (baca Tukul Arwana). Dan yang lebih penting lagi adalah jangan sampai ada diantara kita yang suka menghina kekurangan orang lain. Karena kalau kita hina dia, berarti kita telah menghina Penciptanya.

Harmoni indah dunia ini karena di-isi oleh keberagaman. Dinamika dunia ini karena berhias ketidak samaan. Sesungguhnya keberadaan langit dan bumi, pasang dan surut air lain, keberadaan laki-laki dan perempuan, ada yang ganteng (seperti saya :P ), ada yang jelek, ada darat, ada laut, ada udara dan silih bergantinya malam dan siang, adalah ayat kauniyah Allah yang harus kita tadabburi. Bukan untuk kita nafikan sebagiannya. Tapi harus kita terima semua itu dengan utuh sebagai kesatuan kebesaran Allah subhanahu wata’ala.

Keberadaannya sering kali kita abaikan. Tapi ketika ia tiada, justru kita merindunya hadir di tengah kita. Penguasaha yang sering kali mengabaikan hak-hak buruh, bisa kita pastikan bahwa dengan cepat ia akan bangkrut menjadi melarat, kalau tak ada seorang lagi yang mau bekerja padanya. Kyai yang sering mengeksploitasi santrinya, akan kelabakan juga ketika tak ada orang lagi yang mau nyantri padanya. Politisi arogan yang suka mengeluarkan pernyataan menyakiti hati rakyat, nanti akan frustasi ketika tak seorang pun lagi yang bersedia memilihnya.

Kemaren saya ke toko buku yang terletak di sudut pasar Lawang, mengantar Rifqi, anak saya membeli buku bacaan untuk dia baca pada liburan semester ini. Saya sengaja membelikannya beragam buku, agar ia beralih dari layar tivi ke halaman buku. Tengah-tengah Rifqi memilah-milih buku, hujan deras mengguyur Lawang. Setengah jam kemudian kami keluar dari toko buku, hujan belum juga reda. Mobil saya (dinas) sebenarnya saya parkir tak jauh dari toko buku. Hanya di seberang jalan. Kebetulan kami tidak bawa payung. Kalau kami lari, hanya dalam hitungan tak sampai satu menit, kami tentu bisa sampai ke mobil. Tapi, walau begitu, saya pastikan bahwa saya dan Rifqi tentu akan basah kuyup. Termasuk juga buku yang Rifqi bawa. Karena hujan memang sangat deras.

Ketika berteduh menunggu hujan itulah saya teringat ojek payung yang biasa ramai di Jakarta kala musim hujan. Sayang di kota-kota lain, termasuk di Malang, masih belum ada yang mau memulai menjadi ojek payung. Padahal peluang bisnisnya besar juga lho. Belum banyak saingan soalnya :D .

Oh, ojek payung, hadirmu siang itu sungguh aku rindukan

Andai kau hadir menemuiku kala itu, maka aku tak perlu menunggu hujan reda

Ojek payung, tetaplah mengembang payungmu, meneduhkan pengguna jasamu

Biarlah para koruptor di negeri ini terus dengan pesta poranya

Tapi teruslah kau bercumbu dengan lebat hujan yang mengguyur setiap langkahmu

Uang receh yang kau kumpulkan itu lebih mulia dari triliunan yang berada dalam pundi koruptor

 

Posted on Desember 26, 2011, in Insaf, Tahu Campur and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.