Kita mungkin sering menemui saudara kita, teman atau tetangga kita, yang sudah menikah sekian lama, tapi belum juga punya anak. Saya ingin memberikan saran kepada mereka untuk mencoba dua tips sunnah berikut ini:
Yang pertama, tips datangnya dari Nabi Zakariya as, yang sampai usia lanjut, beliau masih belum punya anak.Beliau pun mengadopsi Mariyam, ibunda Isa as untuk dijadikan “pancingan” sehingga kemudian Allah mengaruniakan anak kepada beliau. Yaitu Nabi Yahya as. Padahal ketika itu, umur beliau sudah sangat uzur sekali. Yang secara logika memang sudah tidak mungkin bisa punya anak. Tapi dalam hal ini, logika langit berkata lain.

Yang kedua, tips datangnya dari Nabi Ibrahim as, ketika sudah sekian lama beliau menikah dengan Sarah, wanita tercantik kedua di dunia (setelah Ibunda Hawa), tapi ternyata, istri beliau yang cantik itu tidak menjadi jaminan untuk beliau bisa punya anak. Tapi sang istri yang bijaksana pun mempersilahkan suaminya untuk menikahi Hajar, (seorang budak pemberian Namrud), sebagai “perangsang” kalau-kalau mungkin Allah melalui Hajar berkenan memberikan keturunan kepada mereka. Dan ternyata benar, tak lama setelah Ibrahim as, menikahi Hajar, maka lahirlah Nabi Isma’il as. Terlepas apapun motivasi Sarah ketika itu, yang mempersilahkan Ibrahim as untuk menikahi Hajar, yang pasti tak lama setelah Isma’il as lahir, maka Sarah pun hamil dan kemudian melahirkan Nabi Ishaq as.

Nah, sodara – sodaraku para pasangan yang sampai sekarang belum dikarunia momongan, tidak ada salahnya kalau Anda mencoba kedua tips di atas. Silahkan pilih yang mana. Boleh yang pertama ataupun yang kedua. yang jelas dalam keduanya tak ada unsur syirik, khurafat, perdukunan dan unsur lainnya yang bisa menciderai aqidah kita sebagai mu,min.

Hanya saja, saran saya, kalau Anda pilih tips yang pertama, kalau mengadopsi anak perempuan, upayakan dia adalah keponakan suami. Dan kalau mengadopsi anak lelaki, usahakan dia adalah keponakan istri. Sehingga dengan begitu, anak tersebut akan tetap menjadi mahram bagi salah satu “orang tua” yang kelaminnya berlainan dengannya. Dan kalau Anda memilih tips yang kedua “wah kalau yang ini kayaknya berat di istri ya :-) )”, sebaiknya persilahlan istri untuk mencari sendiri madu baginya. Hal ini semat-mata untuk meminimalisir konflik yang mungkin terjadi di kemudian hari.
Wallahu a’lam…