dilema manohara
Mei 21, 2009
Arif Mawardi
Sesuatu yang unik telah terjadi pada golongan tua di khalayak, golongan tua sebagai seseorang yang berlabel ”orang yang sudah banyak menelan asam garam”.
Mengklaim kepada yang muda, harus senantiasa menurut dan menghormati golongan tua, dimanapun jika itu masih masuk dalam wilayah NKRI. Karena saya hidup di Jawa, maka adat di Jawa pun kental dengan hal seperti itu, termasuk di sekeliling kehidupan pribadi saya, bahasa pun memiliki efek besar jika kita belum bisa memposisikan diri kita sebagai apa?
Tidak hanya di Jawa, di Manado pun mungkin tidak banyak berbeda dengan adat di Jawa, Nyonya Fajar, ibunda dari Manohara merupakan kasus kongkrit dari perbedaan pandangan dari golongan tua dan golongan muda, meskipun hal itu merupakan kerikil tajam yang setiap saat bisa menimpa pasangan rumah tangga.
Sebelum menerima pinangan dari Tengku Pangeran Kerajaan Kelantan, negara bagian Malaysia ibunda Manohara haruslah mempelajari kondisi dan resikonya mempunyai menantu orang asing, dalam hal adat istiadat orang Manado dan asing dalam setiap pemikiran. Tentang tata hidup yang berkembang dalam diri keluarganya.
Dalam belajar pun kita masih tertatih-tatih memahami karekter dan sekeliling, hal itu tidaklah muda, tetapi haruslah diberi wacana, supaya Sang Calon Menantu bisa memahami sedikit demi sedikit tentang kehendak serta keinginan Sang Mertua. Menantu mana sih nggak ingin membahagiakan kedua mertuanya yang mungkin sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri?
Mengenal orang Malaysia sebenarnya tidak sulit, sebagai orang yang serumpun dengan Indonesia, Malaysia mempunyai beberapa bahkan banyak kesamaan hidup dan cara pandang kehidupan seperti orang Indonesia kebanyakan. Tetapi itu bisa ditepis oleh keragaman budaya dan adat istiadat, tetapi ingat di atas kebudayaan kita disatukan oleh hukum-hukum agama Islam yang sudah paten dan terbukti keampuhannya.
Sang Pangeran harus sedikit membuka diri terhadap perbedaan yang mungkin hal ini sangatlah langka bagi kehidupan ningrat yang setiap saat terlayani kebutuhannya. Contohkan pada diri kita seandainya kita menjadi seorang yang terlayani, protes sana, protes sini, klaim sana serta klaim sini.
Kalau toh terjadi kesalah pahaman, itu merupakan hal yang wajar, satu sisi sang menantu masih ”asing” dengan mertua, sedangkan sang mertua tidak mengetahui ”keterasingan” sang menantu.
Titik netral berada di sang artis ”Manohara Odelia Pinot”, mampukah dia membawa ke alam netral yang bisa dipahami oleh sang ibunda dan sang suami tercinta. Sebagai anak ingatlah ”Surga anak di bawah kaki ibunda”.
Tetaplah sebagai istri yang ingat juga ”Surga istri berada di kaki suami”.
Alangkah bahagianya bisa meraih kedua surga yang telah dijanjikan kepada yang diatas. Untuk meraih surga pun membutuhkan perjuangan yang besar, dan yang pasti permasalahan duniawi bisa terselesaikan serta ada jalan keluar, tetapi tetap mengedepankan ikhtiar dan tawakal.
Cantik rupawan, bersuami sang pangeran, merupakan impian semua wanita di dunia ini, hidup dengan penuh bergelimangan harta, berkeliling tahta, dan semoga tetap berada di jalan yang istiqomah. Hidup akan datar maka hidup akan terasa hambar, maknai hidup.
diambil dari: hmcahyo.wordpress.com