Oleh: Nur Syam *

Salah seorang cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), belum lama ini mengungkapkan kegelisahannya tentang NU di Jawa Pos. Dalam tulisan yang dimuat pada 17 Mei 2009 itu, Gus Sholah mengungkapkan kegelisahan tentang posisi NU di masa depan jika NU tidak cerdas dalam menyikapi pilpres tahun ini.

Gus Sholah memaparkan, sejumlah fakta menyebutkan bahwa keterlibatan NU dalam politik praktis -pilpres, pilgub, pilbub, dan sebagainya- ternyata justru menjadikan NU terkerangkeng di dalam sebuah permainan politik yang tidak menyenangkan. Kegelisahan Gus Sholah ini sangat layak direnungkan.

NU memang organisasi sosial keagamaan atau jam’iyah keagamaan yang di dalam sejarah kehidupan bangsa dan negara telah memiliki sejumlah kontribusi dalam berbagai levelnya. NU juga sudah menorehkan diri dalam kancah politik nasional dengan secara meyakinkan masuk dalam jajaran partai politik yang memiliki bargaining power cukup kuat. Namun, justru beban kesejarahan itulah yang sering memancing keinginan untuk kembali ke kancah politik meski secara tersamar. NU yang telah memasuki kawasan khitah pun secara langsung maupun tidak langsung terjebak ke dalam kubangan perpolitikan yang sangat profan.

Oleh karena itu, menjadi logis jika di tengah ingar bingar pilpres yang akan datang muncul berbagai kekhawatiran. Banyak harapan agar NU tetap menjaga netralitasnya. Melalui posisi tersebut, siapa pun yang memenangkan pilpres tidak akan menyulitkan posisi dan kepentingan NU di masa depan.

Basis Kepentingan

Kemenangan Partai Demokrat (PD) dalam pileg yang baru lalu menandai arus baru dalam peta perpolitikan nasional. Partai ini tentu sangat berbeda dengan PKS yang memiliki basis ideologis dan pengikut yang sangat komit. Di antara semua partai politik yang terlibat di dalam pileg, yang sangat ideologis hanyalah PKS. PKB, bahkan PKNU yang semula memiliki konstituen yang diramalkan ideologis, ternyata tidak lagi seperti itu.

Jebloknya suara PKB dan PKNU tentu disebabkan pengaruh langsung maupun tidak langsung konflik politik yang terus melanda partai itu. Apatisme politik warga NU terhadap PKB atau PKNU kemudian mengarahkan tindakan politiknya ke PD atau lainnya sehingga di wilayah basis NU pun suara PKB dan PKNU nyaris habis.

Partai politik memang didirikan sebagai sarana untuk artikulasi kepentingan. Karena itu, tidak ada satu pun partai politik yang tidak menyuarakan kepentingannya. Partai politik dengan ideologi dan asas apa pun hakikatnya sama, yaitu sebagai sarana untuk mengakses kepada kekuasaan. Bahkan, perolehan suaranya akan dapat dijadikan sarana untuk melakukan political pressure di dalam sistem koalisi yang dilakukan.

NU memang pernah menjadi bagian penting dalam sistem perpolitikan nasional. Dalam kurun waktu Orde Lama dan Orde Baru, NU memang menjadi bagian kehidupan politik dan tentu saja memiliki sejumlah sumbangan di dalam kerangka membangun politik Indonesia. NU pernah berjaya di era Orde Lama, kemudian kembali terpuruk di era Orde Baru.

Dalam relasinya dengan kekuasaan, posisi NU sungguh fluktuatif. Namun, ketertarikan sebagian warga dan elite NU untuk bermain di dalam kawasan politik tidak pernah pudar. Inilah anehnya, NU dikenal sebagai organisasi tradisional, namun dinamika politik di dalamnya sungguh luar biasa.

Sebabkan Kesulitan

Sebagai jam’iyah keagamaan, NU memang seharusnya tidak memasuki kawasan di dalam sistem perpolitikan. Keterlibatan secara politik sesuai dengan khitah adalah keterlibatan individu, bukan organisasi. Hal ini tentu sangat berbeda dengan partai politik, di mana keterlibatan anggota parpol dalam sistem perpolitikan bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi merupakan representasi parpolnya.

Karena itulah, ketika seorang pimpinan atau pengurus organisasi seperti NU atau lainnya memasuki kawasan parpol atau jabatan politik, maka akan sangat sulit dihindarkan terseretnya gerbong organisasi dalam percaturan dan praksis politik. Memang agak rumit menjustifikasi keterlibatan seseorang di dalam dunia politik, apakah atas nama individu atau organisasi. Namun, jangan dilupakan bahwa ketika seorang pimpinan organisasi memasuki kawasan tersebut, maka secara langsung atau tidak akan menyeret institusinya.

Memang kita harus belajar dari masa lalu. Ketika NU masuk dalam dunia politik -terutama di era Orde Baru- maka hampir seluruh akses NU dalam pengembangan masyarakat menjadi bermasalah. Banyak lembaga pendidikan NU yang tidak dapat mengakses kemajuan. Demikian pula institusi ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Lesson learn yang kurang mengenakkan itu tentu harus menjadi perhatian di antara elite NU dalam berbagai level.

Sungguh ironis jika di era di mana NU sudah menyatakan independen sebagai konsekuensi kembali ke khitah 1926, namun di dalam kenyataannya masih bermain mata dengan parpol atau elite parpol. NU memang memerlukan penegasan kembali tentang medan mana yang akan dimasuki.

Di antara sekian banyak medan tersebut, medan politik merupakan medan yang paling rawan. Dari medan ini, segala benang ruwet NU tidak mampu diurai, bahkan bisa saja masalahnya menjadi semakin krusial.

NU memang bukan melting pot yang semuanya bercampur baur menjadi satu. Luluh dan menyatu. NU tetap diharapkan menjadi suatu institusi yang keanekaragaman dalam berbagai tindakan bisa diadopsi sedemikian rupa. Dan menurut saya, selain aspek teologi dan ritual, ruang dialog itu terbuka lebar.

NU itu ibarat sebuah panggung orkestra, setiap pemain bisa berimprovisasi sesuai dengan instrumen yang dimainkan. Namun, meski berbeda instrumen, improvisasi, dan ekspresi, pemain orkestra tersebut akan melahirkan harmoni dalam paduan yang sempurna.

Barangkali relasi yang dibutuhkan warga NU, elite NU, dan politisi dalam pilpres adalah membangun hubungan kontraktual terbuka sehingga semuanya akan memperoleh kesempatan dan peluang yang sama untuk berkompetisi secara fairness dan berkeadaban. Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

Prof Dr Nur Syam MSi, Guru Besar Sosiologi dan Rektor IAIN Sunan Ampel

dilema manohara

Mei 21, 2009

Arif Mawardi

Sesuatu yang unik telah terjadi pada golongan tua di khalayak, golongan tua sebagai seseorang yang berlabel ”orang yang sudah banyak menelan asam garam”.

Mengklaim kepada yang muda, harus senantiasa menurut dan menghormati golongan tua, dimanapun jika itu masih masuk dalam wilayah NKRI. Karena saya hidup di Jawa, maka adat di Jawa pun kental dengan hal seperti itu, termasuk di sekeliling kehidupan pribadi saya, bahasa pun memiliki efek besar jika kita belum bisa memposisikan diri kita sebagai apa?

Tidak hanya di Jawa, di Manado pun mungkin tidak banyak berbeda dengan adat di Jawa, Nyonya Fajar, ibunda dari Manohara merupakan kasus kongkrit dari perbedaan pandangan dari golongan tua dan golongan muda, meskipun hal itu merupakan kerikil tajam yang setiap saat bisa menimpa pasangan rumah tangga.

Sebelum menerima pinangan dari Tengku Pangeran Kerajaan Kelantan, negara bagian Malaysia ibunda Manohara haruslah mempelajari kondisi dan resikonya mempunyai menantu orang asing, dalam hal adat istiadat orang Manado dan asing dalam setiap pemikiran. Tentang tata hidup yang berkembang dalam diri keluarganya.

Dalam belajar pun kita masih tertatih-tatih memahami karekter dan sekeliling, hal itu tidaklah muda, tetapi haruslah diberi wacana, supaya Sang Calon Menantu bisa memahami sedikit demi sedikit tentang kehendak serta keinginan Sang Mertua. Menantu mana sih nggak ingin membahagiakan kedua mertuanya yang mungkin sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri?

Mengenal orang Malaysia sebenarnya tidak sulit, sebagai orang yang serumpun dengan Indonesia, Malaysia mempunyai beberapa bahkan banyak kesamaan hidup dan cara pandang kehidupan seperti orang Indonesia kebanyakan. Tetapi itu bisa ditepis oleh keragaman budaya dan adat istiadat, tetapi ingat di atas kebudayaan kita disatukan oleh hukum-hukum agama Islam yang sudah paten dan terbukti keampuhannya.

Sang Pangeran harus sedikit membuka diri terhadap perbedaan yang mungkin hal ini sangatlah langka bagi kehidupan ningrat yang setiap saat terlayani kebutuhannya. Contohkan pada diri kita seandainya kita menjadi seorang yang terlayani, protes sana, protes sini, klaim sana serta klaim sini.

Kalau toh terjadi kesalah pahaman, itu merupakan hal yang wajar, satu sisi sang menantu masih ”asing” dengan mertua, sedangkan sang mertua tidak mengetahui ”keterasingan” sang menantu.

Titik netral berada di sang artis ”Manohara Odelia Pinot”, mampukah dia membawa ke alam netral yang bisa dipahami oleh sang ibunda dan sang suami tercinta. Sebagai anak ingatlah ”Surga anak di bawah kaki ibunda”.
Tetaplah sebagai istri yang ingat juga ”Surga istri berada di kaki suami”.

Alangkah bahagianya bisa meraih kedua surga yang telah dijanjikan kepada yang diatas. Untuk meraih surga pun membutuhkan perjuangan yang besar, dan yang pasti permasalahan duniawi bisa terselesaikan serta ada jalan keluar, tetapi tetap mengedepankan ikhtiar dan tawakal.

Cantik rupawan, bersuami sang pangeran, merupakan impian semua wanita di dunia ini, hidup dengan penuh bergelimangan harta, berkeliling tahta, dan semoga tetap berada di jalan yang istiqomah. Hidup akan datar maka hidup akan terasa hambar, maknai hidup.

diambil dari: hmcahyo.wordpress.com